Author :
@isnaseptian (inong) Isnaeni septiani
Main cast : 1. Liliyana
Natsir (butet)
2. Tontowi Ahmad (owi)
3. Hendra Setiawan (hendra)
Dan pemeran pembantu lainnya.
Heyhoo sobat BL maaf ekeu baru
muncul dan maaf juga bukan lanjut cerbung ‘ternyata’ malah bikin cerbung baru
hehe. Maap yak! Cekidot.
“selama dua tahun aku
mencintaimu dan selama dua tahun itu pula lah kau tak pernah mengetahuinya”
ucapnya lirih pada orang yang sedang memunggunginya dari kejauhan
Perpisahan tinggal hitungan hari, penyesalan sudah menggunungi
batinnya. Ia dilema, dilema akan semua asa yang tercipta. Tercipta untuk orang
yang mengacuhkannya.
**********
“prrrriiiiiiitttt...prrriiiiittttt...priiiiiittttt”
suara peluit yang terdengar begitu nyaring
“ayoo semua bentuk barisan sesuai
dengan gugus kalian masing-masing” intruksi dari seorang ketua osis yang
diikuti dengan tepukan tangannya memandakan agar semua segera melaksanakan
intruksinya
“yap bagus seperti itu! Barisan
kedua tolong samakan barisan kalian dengan barisan pertama” lagi ucap sang
ketua osis sambil terus merapikan barisan yang ada di depan hadapannya. Setelah
semua dirasa cukup barulah sang ketua osis ini memperkenalkan anggota-anggota
osis beserta tugasnya.
“mohon perhatian semuanya,
selamat pagi. Selamat datang di SMA Harapan Jaya hari ini adalah hari pertama
kalian MOS (masa orientasi siswa) kami harap kalian semua dapat mengikuti MOS
dengan baik selama satu minggu ini, saya akan memperkenalkan anggota osis SMA Harapan
Jaya sekaligus kakak pembimbing kalian dari gugus satu hingga tujuh” jelas sang
ketua osis panjang lebar
“perkenalkan saya maria kakak
pembimbing di gugus satu” ucapnya memperkenalkan diri dengan ramah
“saya simon kakak pembimbing di
gugus lima, salam kenal” ucap anggota osis lainnya memperkenalkan diri
“huh bosan lama banget sih
perkenalan diri doang” rajuk ku dengan cucuran keringat yang semakin deras
memasahi wajah. Kini posisi berdiriku tak lagi tegak melainkan setengah
membungkuk dengan wajah tertunduk karena telah bosan mendengar aktivitas
perkenalan dari anggota osis yanag tak kunjung selesai.
“dan saya kakak pembimbing di
gugus terakhir yaitu gugus tujuh, nama saya hendra setiawan panggil saja
hendra” perkenalan terakhir dari anggota osis ini menuai bisikan dari orang-orang
yang berada di sekitarku entah apa yang mereka bicarakan. Aku pun lantas
mendongkakkan kembali wajahku untuk melihat ke arah kanan dan kiri ku lalu ke
arah anggota osis itu.
“pantas saja berisik! Ga bisa
liat pria bening sedikit! Dasar perempuan!” cibirku lalu kembali keaktivitas
awal membungkukkan badan dengan wajah tertunduk.
“Perkenalan dari anggota osis SMA
Harapan Jaya telah selesai , mohon kerja samanya dari kalian semua agar MOS ini
berjalan dengan baik dan lancar. Silahkan kalian ikuti kakak pembimbing dari
gugus masing-masing untuk memasuki ruang kelas” sambutan terakhir dari sang
ketua osis lalu mempersilahkan kami untuk memasuki ruang kelas
“selamat datang di gugus tujuh ,
seperti yang saya bicarakan tadi saya adalah kakak pembimbing di gugus ini.
Sekarang saya akan memberi tahu peraturan MOS kalian mulai hari ini hingga enam
hari kedepan” jelas sang kakak pembimbing dengan ramah tak lupa dengan menebar
senyumnya.
“Dari tadi sambutan mulu bete
deh! Pake senyum-senyum lagi tuh kakak pembimbing tebar pesona banget” gumamku
melihat tingkah hendra si kakak pembimbing gugus tujuh.
Lalau kami dipersilahkan untuk
memperkenalkan diri masing-masing beserta asal sekolah SMP kami. Setelah sesi
perkenalan mulailah sesi games dengan menyanyi di depan kelas, bergoyang di
depan kelas dan games-games lainnya yang menurutku sudah sangat basi. Sialnya
aku kena sesi games ini karena tak dapat menjawab pertanyaan dari kakak
pembimbing, sebagai hukumannya kakak pembimbing ku membawa aku ke ruang kelas
sebelah yang merupakan gugus lima.
“hallo semua.. kakak dari gugus
tujuh nih bawa teman kalian yang kena hukuman, katanya dia mau nampilin
bakatnya disini lihat aksinya ya” kakak pembimbing ku menjelaskan kedatangannya
di depan kelas aku sangat muak melihat tingkahnya.
“kamu mau nampilin bakat apa?
Nyanyi? Nar..” belum selesai dia berbicara sudah langsung kupotong
pembicaraanya
“karate!” jawabku cepat dengan
posisi kuda-kuda yang sudah siap
“silahkan.. tunjukan bakatmu”
ucapnya dengan gaya seperti pembawa acara di ajang pencarian bakat dan
lagi-lagi dia membuatku muak.
‘bikin malu aja! Heum rasain
loh!’ kataku dalam hati lalu menyeringai
“haiikk..
taassh..tasshh..DAASSSHHH”
“ups” kataku dengan satu tangan ditempelkan tepat di mulut.
“aw.. ka-karate mu he-hebat
ju-juga ya” ucap kakak pembimbingku terbata-bata menahan sakit diperutnya
akibat tendangan yang barusan ku layangkan.
‘YES!’ Aku menyeringai senang
tanda kemenangan ada di tanganku niatnya mungkin tadi ia akan membuatku malu di
depan umum namun malah dia yang ku permalukan. Namun para wanita yang bersarang
di gugus lima ini nampaknya tak senang dengan perlakuanku barusan terlihat dari
tatapan mengerikan yang mereka berikan padaku. Masa bodoh aku tak peduli.
“yeay hebat hebat!” ucap salah
seorang penghuni gugus lima ia bangun dari duduknya lalu brtepuk tangan.
‘baru begitu saja sudah heboh
apalagi ku keluarkan jurus andalan, benar-benar norak’gumamku dalam hati dengan
menaikkan satu alisku. Tanpa menunggu intruksi dari kakak pembimbing, aku
segera keluar dari gugus lima.
Oh ya aku hampir lupa memperkenalkan diri
namaku Liliyana Natsir biasa dipanggil butet aku anak dari Papa Beno dan Mama
Olly aku mempunyai kakak dia sangat menyebalkan karena hobinya adalah KEPO
namanya Calista walau kami sama-sama perempuan tapi aku rada melenceng sedikit
dari kakak ku bukan melenceng dalam arti kata negatif loh ya tapi dandananku
yang rada melenceng karena aku lebih mirip seperti laki-laki maklum mama dulu
memang menginginkan seorang anak laki-laki jadi jangan salahkan aku jika aku
tomboy. Ya.. hitung-hitung mengobati kekecewaan mama yang menginginkan seorang
anak laki-laki. Menurut teman-teman aku adalah seorang gadis tangguh bagaiman
tidak aku bisa mengerjakan semua yg
biasa dilakukan oleh anak laki-laki seperti main bola bahkan aku selalu
menjadi kapten tim bola disekolahku dulu, memanjat pohon mangga kesukaanku dan
masih banyak lagi.
Hoaaaaaaam... Alarm dikamar sukses muambutku bangun dari persinggahan
di pulau kapuk alias kasur. Aku bangun dengan langkah sempoyongan bergegas
untuk segera ke kamar mandi. Hari ini merupakan hari pertamaku menjadi siswi di
SMA Harapan Jaya serangkaian MoS telah
ku lewati mulai dari hari pertama hingga hari ketujuh. Rasa malas menggelayutiku saat akan mengenakan seragam karena aku masih
sangat ngantuk maklum semalam aku baru saja begadang menton liga inggris namun
aku baru sadar aku tak boleh berlama-lama lagi ketika tak sengaja mataku
menangkap jarum pendek jam berada ditengah-tengan antara angka enam dan angka
tujuh serta jarum panjang berada tepat diangka enam dan itu pertanda... Oh
tidak! aku akan terlambat datang ke sekolah.
“hah? sudah jam 06.30? mati saja
kau tet” ucapku pada diriku sendiri sambil menatap cermin untuk merapihkan
jambul kesayangan. Lalu aku begegas menuruni anak tangga untuk berpamitan pada
mama
“ya ampun dek mama kira kamu
sudah berangkat, udah siang ini ayo cepat sarapan dulu” ucap mama lalu
menyuruhku untuk sarapan bersama.
“nggak ma, udah siang banget ini
nanti aku telat. Aku berangkat ya” kataku lalu meminum beberapa teguk susu yang
mama siapakan di meja makan hitung-hitung menghargainya. Cepat-cepat aku
melangkahkan kaki keluar.
“eh dek tunggu, ini kunci
mobilnya gak di bawa?” mama berteriak menahanku
“aku bawa motor ma, kalo pake
mobil pasti macet ga bisa selap-selip hehe” aku menoleh kebelakang sambil
cengengesan
Dengan cepat kulajukan motor
Ninja Merah 250cc milikku. Pasti kalian bertanya-tanya mana bisa membawa motor
ninja menggunakan rok tentu saja tidak aku mengenakan celana olahraga seperti
saat SMP ku dulu dan begitupun dengan hari ini. Jalanan bundara HI yang
merupakan jalan utama menuju sekolahku macet total sama sekali tak bergerak.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit aku hanya mempunyai sisa waktu
15 menit lagi untuk sampai ke sekolah akhirnya aku memutuskan untuk melewati
jalan tikus meskipun menjadi lebih jauh aku tak perduli. Yang penting aku bisa
sampai tepat waktu. Ketika diperempatan jalan motorku oleng ke kiri alhasil aku
jatuh tepat ke kubangan jalan.
“hey!! Berhenti! Bisa bawa mobil ga sih!”
teriakku pada pengendara mobil BMW, lalu mobil itupun berhenti.
“ heh bawa mobil tuh hati-hati
dong! Lihat kanan-kiri jalan jangan asal ngebut! Baju gue kotor nih!” kataku menegur
pengendara mobil itu sambil mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.
Si pengendara mobil hanya membuka
setengah kaca mobilnya lalu berkata “sorry gue lagi buru-buru, nih buat ganti
baju lo yang kotor” ucapnya sambil memberikan lembaran uang seratus ribu. Lalu
mobil itupun melesat pergi begitu saja.
“menyebalkan sekali! Dia pikir
dia siapa bisa seenaknya! Lihat saja ya kalau sampai aku tau siapa dia, habis
kau!” makiku pada si pengendara mobil tadi.
Segera aku melajukan motorku
menuju sekolah karena waktuku tak banyak, hanya tinggal 8 menit lagi. Dan tepat
pukul 07.00 aku sampai di depan gerbang sekolah, namun saat motorku akan masuk
ke dalam gerbang, dari arah kanan dengan kecepatan tinggi sebuah mobil
menyenggol body motorku yang berniat akan memasuki gerbang sekolahku juga.
‘sial! Lagi..lagi..dan lagi!
Bisa-bisa motor gue rusak kalo begini! Eh.. ituu..’ rajukku dalam hati, lalu
ucapanku terhenti saat melihat sesuatu yang tak asing dari mobil itu.
“B- 1-2-0-W-1-K-5- T” aku mengeja
plat mobil yang baru saja menyenggol body motorku.
“tidak salah lagi! Dia yang tadi
nabrak di perempatan jalan! Rupanya dia sekolah disini juga, mati kau!” kataku penuh semangat lalu turun dari motor
untuk menghampiri si pengendara mobil.
“heh punya nyali berapa lo cari
masalah sama gue?”
“ Lo kan yang di perempatan jalan
tadi?” ucapnya sambil menunjukku dengan membuka setengah kaca mobilnya.
“baguslah kalo lo masih ingat!
Ada masalah apa lo sama gue sampai-sampai nabrak gue dua kali hah?” ucapku
kesal.
“idih siapa juga yang cari masalah
sama lo! Kenal aja enggak!” ucapnya membuang muka.
“lo itu nyebelin ya!” aku
mencengkram kerah bajunya bersiap akan melayangkan pukulan namun satpam sekolah
melerai kami.
“ada apa sih kalian ini, sudah
berangkat siang malah berdebat di depan gerbang! Sudah pukul 07.00 cepat masuk
gerbang akan segera ditutup!” ucap sang satpam sambil memelototi kami berdua. Setelah aku memarkirkan motor, cepat-cepat aku
pergi ke kamar mandi untuk segera mengganti celanku dengan rok lalu aku masuk
ke dalam ruangan yang bertuliskan X-3 yang tak lain dan tak bukan adalah ruang
kelasku.
“selamat pagi bu, maaf saya
terlambat” ucapku memberi salam ketika memasuki kelas.
“baru hari pertama sekolah sudah
terlambat! Kamu niat ke sekolah apa tidak? Berantakan sekali!” sang guru menatapku
tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki
‘sial! Aku kotor sekali. Sangat
berantakan!’ gumamku dalam hati dengan menirukan gaya guruku itu
“maaf bu, tadi saya kece...”
belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku datang seseorang yang menyanggah ucapanku
dari ambang pintu.
“mah-maafh buh, maaf saya telat”
ucapnya dengan deru nafas yang sangat jelas terdengar.
“loh? Lo kan.. yang tadi! Ngapain
lo kesini? Ngikutin gue ya lo?!” dengan spontan aku membentaknya.
“idiih! Lo kali yang ngikutin
gue!” ucapnya kemudian menirukan gayaku yang sedang menunjuknya.
“heh! Yang duluan kesini itu gue!
Jadi jelas lah lo yang ngikutin gue!” kataku dengan memamerkan mata yang
sengaja ku buka lebar-lebar.
“bu.. ini orang yang buat saya
telat bu, bikin baju saya kotor, body motor saya lecet, bikin saya berantakan,
dia yang bikin kecelakaan bu!” cerocosku berharap dapat simpati dari sang guru.
“eh apaan! Kenapa jadi gue? Lo
juga salah kali, belok di perempatan tiba-tiba gitu. Dia bu yang salah bukan
saya!” dia menjelaskan rentetan kejadian tadi dengan isyarat tangan yang dibuat
miring ke kiri lalu ke kanan.
“SUDAH! SUDAH! BERHENTI KALIAN
SEMUA!” wajah guruku memerah dan mulai nampak ada tanduk dikepalanya tanda ia
mulai kesal dengan ulah kami. (kalau di film-film ceritanya bu gurunya teriak
sampai-sampai meja sama kursi goyang-goyang saking cetarnya teriakan tuh guru
ehehe *abaikan)
“kalian ini baru datang sudah
bikin ulah! Buat gaduh saja! Ayo push up!” ucapnya lagi lalu memeberi hukuman
pada kami.
‘semua ini gara-gara lo! Pembawa
sial dasar’ gumamku dalam hati sambil meliriknya sebentar lalu menjalankan yang
disuruh oleh guruku.
“sudah cukup push up nya, ayo
cepat duduk. Pelajaran akan segera dimulai” guruku mempersilahkan kami untuk
duduk lalu menunjuk dua kursi kosong
dengan satu meja yang sama.
“apa? Gue harus duduk satu meja
bareng lo? Ah pasti sial terus gue” ucapku sambil mengacak-ngacak rambut jabrik
kesayanganku.
“heh lo pikir gue mau duduk
bareng lo? Ogah!” cerocos orang menyebalkan itu.
“hey! Kalian ini kenapa sih?!
Kalian tidak mau duduk berdua? Suruh siapa kalian datang terlambat kursi yang
tersisa hanya itu. sudah cepat duduk sana!” guruku nampaknya mulai kesal
kembali lagi-lagi karena ulah kami.
Hmm.. mau tak mau aku harus duduk
juga dengan manusia menyebalkan ini. Sepertinya aku harus sering-sering cek
kedokter karena aku yakin seminggu saja aku duduk dengannya bisa-bisa tensiku
tinggi. Ah menyebalkan. Saat aku tengah fokus mencerna materi dari guru yang
sedang menerangkan pelajaran, disebelah kananku terlihat sangat rusuh.
“heh.. heh.. gue liat catatan lo
dong, tulisan bu firda ga jelas banget tuh” ucap seseorang di sebelahku.
Tanpa berkata sepatah katapun
bahkan melirikpun tidak aku menyodorkan catatan milikku.
“heh..heh.. gue pinjem pulpen dong, pulpen gue
abis nih” ucapnya lagi sambil menyikut lenganku.
Lagi, tanpa berkata sepatah
katapun bahkan melirikpun tidak aku menyodorkan bolpoin milikku.
“heh..heh.. gue pinjem tip-x
dong, gue lupa bawa tip-x” ucapnya lagi kini dengan menatapku sambil menopang
dagunya .
Lagi dan lagi tanpa berkata
sepatah katapun aku menyodorkan tip-x milikku namun kini sambil menatapnya
dengan tatapan mematikan bermaksud agar dia berhenti melakukan aktivitas
meminjam barang-barang milikku. Namun beberapa saat kemudian...
“heh..heh.. gue pinjem.....”
belum sempat ia menyelesaikan perkatannya sudah ku potong. Kesabaranku habis.
“ASTAGA! Mau lo apa sih? Ambil
tuh catatan gue, pulpen gue, tip-x gue, penghapus gue, penggaris, semua! Ambil
tuh semua sama lo! Rese banget sih ganggu aja lo!” kesebaranku habis. suaraku meninggi. Aku membentaknya sambil
memukul meja, dan aku tak menyadari kalau ini berada di dalam kelas, tentu saja
membuat gaduh.
“aw! Sakit!” pekikku sambil
mengelus-ngelus dahi yang terasa berdenyut akibat penghapus yang bu firda layangkan
tepat ke arahku.
“kalian berdua lagi! Kalian
berdua lagi! Seperti kucing dan anjing saja! Siapa sih kalian?” guruku
bermonolog terlihat sangat frustasi
akibat ulah kami sambil melihat daftar absensi untuk melihat nama kami berdua.
“push up dari saya tak cukup
memberikan efek jera ternyata, kalau begitu cepat kalian keliling lapang 10
putaran. Ayo cepat liliyana natsir dan tontowi ahmad!” ucap guruku yang
terlihat sangat menakutkan.
‘sudah yang kelima kalinya gue
sial gara-gara lo! Liat saja pembalasannya nanti!’ gumamku dalam hati sambil
mendelik orang yang menyebalkan itu sebelum aku keluar kelas untuk mulai
melakukan perintah dari guruku.
Setelah kami selesai lari 10
keliling lapangan, kami memutuskan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran
namun SIALnya lagi kami tidak diperbolehkan mengikuti 2 jam pelajaran bu firda
katanya ini sebagai hukuman beruntun agar kami tak melakukkan kegaduhan lagi
nantinya.
‘belum satu hari duduk dengannya
saja aku sudah tertimpah beberapakali kesialan apalagi untuk besok? Lusa? Satu
minggu kemudian? OH TIDAK!” rajukku dalam hati lalu mengacak-ngacak rambut
jabrikku itu yang memang selalu aku lakukkan ketika aku merasa kesal.
Lalu aku pun pergi sengaja
meninggalkannya, aku pergi ketaman biotik untuk menyegarkan sedikit otakku
sambil menonton para kakak kelasku yang sedang berolahraga. Ya.. aku tak mau
berlama-lama lagi bersama orang menyebalkan ini, setidaknya dengan bu firda
tidak membiarkan kami masuk ke kelas ada untungnya juga 2 jam aku tidak harus
bersama dengan orang freak itu. ditengah-tengah keasyikanku menontoni kakak kelas yang tengah berlaga
menggocek bola kesan-kemari datang seseorang yang tiba-tiba duduk disebelahku.
“hai.. muka lo mumet banget,
gara-gara gue ya? sorry deh sorry” ucapnya membuka keheningan diantara kami.
Aku menoleh ke sebelahku ‘sial!
Lo lagi!’ kesalku dalam hati sambil menatapnya tajam.
“sorry deh gue bikin lo sial
terus ya?” ucapnya lagi.
Aku tak menjawab pertanyaanya,
aku bangkit dari dudukku lalu pindah ke tempat yang lebih jauh untuk menghindar
darinya.
“hei.. gue janji gak akan buat
ulah lagi kok, jawab dong!” dia menghampiriku lagi seolah ingin membangunkan
macan yang sedang tertidur, lalu melambai-lambaikan tangannya tepat di dedapan
wajahku.
“LO ITU.. NYEBELIN BANGET SIH! MAU
LO APA?!” tingkat kesabarnkku sudah sangat menipis aku melotot dengan wajah
yang nampak seperti singa akan menerkam mangsanya.
“eits.. jangan galak-galak dong
liat tuh kepala lo” ucapnya serius menatap kepalaku
“kenapa sama kepala gue hah? ga
suka lo?!” lagi-lagi aku membentaknya urat leherku rasanya mau putus.
“bukan, kepala lo ada asapnya
tuh” ucapnya sambil menaruh botol berisi minuman dingin diatas kepaku seperti
sedang mengompres.
“nah sekarang asapnya sudah
hilang, udah ya jangan marah-marah lagi. Maafin gue ya” ucap laki-laki
menyebakan itu tersenyum lalu menyodorkan minuman yang ia pakai untuk
mengompres kepalaku tadi.
“ini, ayo minum. Lo pasti haus
kan? Nih buat lo” ucanya lagi ramah lalu tersenyum.
“kalaupun gue haus gue bisa beli
sendiri!” aku memalingkan wajah lalu merogoh saku bajuku untuk segera pergi
lalu membeli minum.
‘ya ampun, uang gue kan ada di
tas’ gumamku dalam hati sambil menepuk jidat.
“kenapa? Uangnya ada di tas ya?”
ucapnya, dia seperti paranormal yang dapat mengetahui pikiran orang lain.
‘gengsi kali gue udah
bentak-bentak dia terus gue ambil gitu aja minuman yang dia kasih, tapi.. haus
banget’ rutukku dalam hati lalu menelan ludah ketika melihat tetesan embun yang
mengelilingi botol minuman menyegarkan itu.
“Udahlah gengsinya ditinggal dulu, lo minum
nih.. emm.. enak loh seger” dan lagi-lagi ucapannya tepat seperti apa yang
sedang ku pikirkan.
Dengan rasa gengsi yang tak
kupikirkan lagi dengan cepat aku menyambar botol minuman yang sedari tadi
kuanggurkan. Sepersekian detik minuman dibotol itupun telah lenyap, habis
hingga tetesan terakhir.
“ya ampun lo haus apa doyan?
Cepet banget udah habis lagi haha” ucapnya tertawa melihat tingkahku.
“kenapa? Masalah buat lo? Tenang
aja nanti kalau udah diboleh masuk kelas uang lo gue ganti!” ucapku masih
membentaknya sebenarnya sih untuk menutup malu atas gengsi yang tadi tak
kuhiraukan.
“jutek banget sih lo, oh iya kita
belum kenalan. Gue tontowi panggil aja owi lo siapa?” katanya lalu mengulurkan
tangan mengajak bersalaman.
“lo ga denger bu firda manggil
gue tadi siapa? Budek lo?” bukan menjawabnya aku malah berbalik menanyainya.
“yaelah, gue ga budek! iya gue
tau lo liliyana kan? Liliyana Na-na..na.. Nasar ya?” Ucapnya menebak-nebak
“Nasar itu penyanyi dangdut!
Jayus lo” ucapku yang tahu kalau dia ingin membuatku tertawa atas pelesetannya.
Namun tak berhasil.
“jayus itu, itu loh jayus
tambunan” ucapnya lagi.
“apaan sih lo ga lucu, basi
banget lawakan lo” ucapku dingin, sambil terus menonton jalannya pertandingan
futsal kakak kelasku.
“yaudah mangkanya nama lo siapa?
Kan kalau gue panggil liliyana kepanjangan” ucapnya.
“butet, panggil aja gue butet”
kataku tanpa menoleh ke arahnya.
“bhahaha butet? Aneh banget
sumpah nama panggilan lo konyol bhahaha ga ada nyambung-nyambungnya sama nama asli
lo” tawanya pecah saat tahu nama panggilanku butet.
“BRUGH”
“gue udah coba tahan sama sikap
lo yang super nyebelin dari awal diperempatan jalan tadi ya! Kesabaran ada
batasnya! Lo bakalan tahu kalau mau main-main sama gue!” ucapku setelah
berhasil mendaratkan pukulan tepat diarah perutnya yang memebuat dia meringis
kesakitan.
“aw! Pukulan lo hebat juga!
Kenapa ga jadi atlet karatre aja lo, hey! Hey! Gue lagi ngomong sama lo ya
heeey!” dia terus-memanggil-manggil namaku sepeninggal aku pergi.
“teeet teeet teeet” akhirnya bel
pun berbunyi itu tandanya aku boleh meninggalkan sekolah. Ketika aku akan ganti
rok sekolahku dengan celana olahraga aku baru ingat kalau celana olahragaku
kotor sekali akibat insiden tadi pagi tidak mungkin aku pulang dengan celana
seperti itu tapi jika aku memaksakan menggunakan rok sekolah tidak mungkin juga
karena pasti tidak nyaman.
“akh..! bagaimana ini?” aku
mengacak rambutku sendiri.
“oh iya! Aku tau!” akupun
memetikan jari.
Aku menyusuri setiap lorong kelas
berharap menemukan sosok yang kucari, aku berjan beberapa langkah lagi
menyusuri kantin sekolah tak kutemukan juga yang sedari tadi ku cari-cari. Dan
ketika aku memutuskan untuk mencarinya di taman biotik akhirnya terlihat juga.
“heh!” ucapku pada seseorang yang
memunggungiku.
“heh! LO BUDEK YA?!” ucapku lagi
kini berteriak tepat di kupingnya.
“kalau manggil nama orang yang
sopan ga perlu teriak-teriak gue gak budek kok dan satu lagi nama gue owi bukan
‘HEH’ ngerti?” ucapnya dengan tampang dibuat semanis mungkin sambil membekam
mulutku.
“apaan sih lo, lepasin” aku
berontak.
“sini celana lo” tanpa basa-basi
aku langsung meminta celananya.
“maksud lo apa sih? Datang
teriak-teriak terus tiba-tiba minta celana gue, sakit lo?” ucap lelaki itu
sambil menaikan satu alis tebalnya.
“lo yang sakit! Lo lupa? Atau
amnesia? Tadi pagi lo nabrak siapa di perempatan jalan sampai itu orang jatuh
ke kubangan dan celananya kotor semua. Lupa lo hah?” ucapku geram.
“ohahaha” ia pun tertawa tanpa
terlihat bersalah “ jadi itu sebabnya lo dari awal jutek sama gue, emang tadi
yang gue tabrak itu perempuan? Seingat gue yang gue tabrak tadi itu laki-laki
deh pakai celana olahraga bukan rok sekolah begini” ia terlihat sedang berfikir
“iya yang lo tabrak itu gue!
Perempuan! Dan celana gue kotor akibat tadi jatuh kekubangan gara-gara lo! Dan
sekarang... lo ngerti kan harus ngapain?”
“ma-maksud lo?”
“gue mau pulang dan gue gak
mungkin pulang pakai rok soalnya gue bawa motor dua kali lipat lebih besar dari
motor biasa”
“jadi.. maksud lo? Mau pakai
celana gue sebagai ganti celana lo yang kotor? Kalau lo pakai celana gue, gue
pakai apa?”
“Bukan urusan gue! Cepat sini
celananya!”
“ta-tapi.. apa kata orang nanti
kalau gue gak pakai celana?”
“yaudah lo pakai rok gue gue aja
sih ribet banget! Cepat sini celananya!”
“apa kata orang nanti kalau gue
pakai rok? Enggak ah enggak!”
“mau bogem atau pakai rok?”
ucapku dengan memamerkan tangan yang ku kepal bersiap menerkamnya.
“apa gak ada pilihan lain? Gue
beliin lo celana dulu deh di mall”
“enggak ah enggak! Kelamaan!”
“yaudah kalau lo susah buat bawa
motor pakai rok lo pulang bareng gue aja deh. Motor lo biar nanti temen gue
yang bawa dan anterin ke rumah lo”
“OGAH!”
“ya ampun tet pleas ngertiin gue
dong, gak mungkin gue pakai rok dilingkungan sekolah kayak begini nanti kalau
kepala sekolah lihat lo bakal kena juga” ucapannya sukses membuatku
berfikir dua kali kata-katanya ada
benarnya juga jika kepala sekolah melihatnya tentu akan muncul masalah baru
lagi. Ini baru hari pertamaku sekolah aku tak mau membuat onar lagi akhirnya
dengan berat hati aku pulang bersama orang menyebalkan ini. Dan ditengah
perjalanan aku baru sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahku.
“ini kan bukan arah ke rumah
rumah gue, dari tadi gue udah bilang kan setelah perempatan belok kiri bukannya
lurus”
“emang kita bukan mau kerumah lo
kok” ucapnya enteng membuatku panik setengah mati.
“heh! Lo mau bawa gue kemana?
Jangan macem-macem ya lo!” ucapku mengancamnya untuk menutupi rasa takutku.
‘Jangan-jangan dia mau menyekapku
dalam sebuah gudang, atau melemparku kesungai atauuu memutalisiku menjadi
beberapa potongan aaaa tidaak’
‘mungkin tadi disekolah ketika
aku membentak-bentaknya dia diam saja karena sudah merencanakan ini’
‘tuhan tolong aku’ aku
membayangkan apa yang akan terjadi nanti dan aku terus berdoa berharap semua
yang kubayangkan tidak benar.
TBC
Akankah terjadi yang dipikran
oleh butet? Dan kira-kira butet mau dibawa kemana ya sama owi?
Tunggu part selanjutnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar