Time Line

Senin, 23 Desember 2013

Title : SECRET ADMIRER PART 1


Author                  : @isnaseptian (inong) Isnaeni septiani
Main cast            : 1. Liliyana Natsir (butet)
                                 2. Tontowi Ahmad (owi)
                                 3. Hendra Setiawan (hendra)
                                    Dan pemeran pembantu lainnya.
Heyhoo sobat BL maaf ekeu baru muncul dan maaf juga bukan lanjut cerbung ‘ternyata’ malah bikin cerbung baru hehe. Maap yak! Cekidot.
 “selama dua tahun aku mencintaimu dan selama dua tahun itu pula lah kau tak pernah mengetahuinya” ucapnya lirih pada orang yang sedang memunggunginya dari kejauhan
Perpisahan tinggal hitungan hari, penyesalan sudah menggunungi batinnya. Ia dilema, dilema akan semua asa yang tercipta. Tercipta untuk orang yang mengacuhkannya.
**********
“prrrriiiiiiitttt...prrriiiiittttt...priiiiiittttt” suara peluit yang terdengar begitu nyaring
“ayoo semua bentuk barisan sesuai dengan gugus kalian masing-masing” intruksi dari seorang ketua osis yang diikuti dengan tepukan tangannya memandakan agar semua segera melaksanakan intruksinya
“yap bagus seperti itu! Barisan kedua tolong samakan barisan kalian dengan barisan pertama” lagi ucap sang ketua osis sambil terus merapikan barisan yang ada di depan hadapannya. Setelah semua dirasa cukup barulah sang ketua osis ini memperkenalkan anggota-anggota osis beserta tugasnya.
“mohon perhatian semuanya, selamat pagi. Selamat datang di SMA Harapan Jaya hari ini adalah hari pertama kalian MOS (masa orientasi siswa) kami harap kalian semua dapat mengikuti MOS dengan baik selama satu minggu ini, saya akan memperkenalkan anggota osis SMA Harapan Jaya sekaligus kakak pembimbing kalian dari gugus satu hingga tujuh” jelas sang ketua osis panjang lebar
“perkenalkan saya maria kakak pembimbing di gugus satu” ucapnya memperkenalkan diri dengan ramah
“saya simon kakak pembimbing di gugus lima, salam kenal” ucap anggota osis lainnya memperkenalkan diri
“huh bosan lama banget sih perkenalan diri doang” rajuk ku dengan cucuran keringat yang semakin deras memasahi wajah. Kini posisi berdiriku tak lagi tegak melainkan setengah membungkuk dengan wajah tertunduk karena telah bosan mendengar aktivitas perkenalan dari anggota osis yanag tak kunjung selesai.
“dan saya kakak pembimbing di gugus terakhir yaitu gugus tujuh, nama saya hendra setiawan panggil saja hendra” perkenalan terakhir dari anggota osis ini menuai bisikan dari orang-orang yang berada di sekitarku entah apa yang mereka bicarakan. Aku pun lantas mendongkakkan kembali wajahku untuk melihat ke arah kanan dan kiri ku lalu ke arah anggota osis itu.
“pantas saja berisik! Ga bisa liat pria bening sedikit! Dasar perempuan!” cibirku lalu kembali keaktivitas awal membungkukkan badan dengan wajah tertunduk.
“Perkenalan dari anggota osis SMA Harapan Jaya telah selesai , mohon kerja samanya dari kalian semua agar MOS ini berjalan dengan baik dan lancar. Silahkan kalian ikuti kakak pembimbing dari gugus masing-masing untuk memasuki ruang kelas” sambutan terakhir dari sang ketua osis lalu mempersilahkan kami untuk memasuki ruang kelas
“selamat datang di gugus tujuh , seperti yang saya bicarakan tadi saya adalah kakak pembimbing di gugus ini. Sekarang saya akan memberi tahu peraturan MOS kalian mulai hari ini hingga enam hari kedepan” jelas sang kakak pembimbing dengan ramah tak lupa dengan menebar senyumnya.
“Dari tadi sambutan mulu bete deh! Pake senyum-senyum lagi tuh kakak pembimbing tebar pesona banget” gumamku melihat tingkah hendra si kakak pembimbing gugus tujuh.
Lalau kami dipersilahkan untuk memperkenalkan diri masing-masing beserta asal sekolah SMP kami. Setelah sesi perkenalan mulailah sesi games dengan menyanyi di depan kelas, bergoyang di depan kelas dan games-games lainnya yang menurutku sudah sangat basi. Sialnya aku kena sesi games ini karena tak dapat menjawab pertanyaan dari kakak pembimbing, sebagai hukumannya kakak pembimbing ku membawa aku ke ruang kelas sebelah yang merupakan gugus lima.
“hallo semua.. kakak dari gugus tujuh nih bawa teman kalian yang kena hukuman, katanya dia mau nampilin bakatnya disini lihat aksinya ya” kakak pembimbing ku menjelaskan kedatangannya di depan kelas aku sangat muak melihat tingkahnya.
“kamu mau nampilin bakat apa? Nyanyi? Nar..” belum selesai dia berbicara sudah langsung kupotong pembicaraanya
“karate!” jawabku cepat dengan posisi kuda-kuda yang sudah siap
“silahkan.. tunjukan bakatmu” ucapnya dengan gaya seperti pembawa acara di ajang pencarian bakat dan lagi-lagi dia membuatku muak.
‘bikin malu aja! Heum rasain loh!’ kataku dalam hati lalu menyeringai
“haiikk.. taassh..tasshh..DAASSSHHH”
“ups” kataku dengan satu tangan  ditempelkan tepat di mulut.
“aw.. ka-karate mu he-hebat ju-juga ya” ucap kakak pembimbingku terbata-bata menahan sakit diperutnya akibat tendangan yang barusan ku layangkan.
‘YES!’ Aku menyeringai senang tanda kemenangan ada di tanganku niatnya mungkin tadi ia akan membuatku malu di depan umum namun malah dia yang ku permalukan. Namun para wanita yang bersarang di gugus lima ini nampaknya tak senang dengan perlakuanku barusan terlihat dari tatapan mengerikan yang mereka berikan padaku. Masa bodoh aku tak peduli.
“yeay hebat hebat!” ucap salah seorang penghuni gugus lima ia bangun dari duduknya lalu brtepuk tangan.
‘baru begitu saja sudah heboh apalagi ku keluarkan jurus andalan, benar-benar norak’gumamku dalam hati dengan menaikkan satu alisku. Tanpa menunggu intruksi dari kakak pembimbing, aku segera keluar dari gugus lima.
 Oh ya aku hampir lupa memperkenalkan diri namaku Liliyana Natsir biasa dipanggil butet aku anak dari Papa Beno dan Mama Olly aku mempunyai kakak dia sangat menyebalkan karena hobinya adalah KEPO namanya Calista walau kami sama-sama perempuan tapi aku rada melenceng sedikit dari kakak ku bukan melenceng dalam arti kata negatif loh ya tapi dandananku yang rada melenceng karena aku lebih mirip seperti laki-laki maklum mama dulu memang menginginkan seorang anak laki-laki jadi jangan salahkan aku jika aku tomboy. Ya.. hitung-hitung mengobati kekecewaan mama yang menginginkan seorang anak laki-laki. Menurut teman-teman aku adalah seorang gadis tangguh bagaiman tidak aku bisa mengerjakan semua yg  biasa dilakukan oleh anak laki-laki seperti main bola bahkan aku selalu menjadi kapten tim bola disekolahku dulu, memanjat pohon mangga kesukaanku dan masih banyak lagi.
Hoaaaaaaam...  Alarm dikamar sukses muambutku bangun dari persinggahan di pulau kapuk alias kasur. Aku bangun dengan langkah sempoyongan bergegas untuk segera ke kamar mandi. Hari ini merupakan hari pertamaku menjadi siswi di SMA  Harapan Jaya serangkaian MoS telah ku lewati mulai dari hari pertama hingga hari ketujuh. Rasa malas menggelayutiku  saat akan mengenakan seragam karena aku masih sangat ngantuk maklum semalam aku baru saja begadang menton liga inggris namun aku baru sadar aku tak boleh berlama-lama lagi ketika tak sengaja mataku menangkap jarum pendek jam berada ditengah-tengan antara angka enam dan angka tujuh serta jarum panjang berada tepat diangka enam dan itu pertanda... Oh tidak! aku akan terlambat datang ke sekolah.
“hah? sudah jam 06.30? mati saja kau tet” ucapku pada diriku sendiri sambil menatap cermin untuk merapihkan jambul kesayangan. Lalu aku begegas menuruni anak tangga untuk berpamitan pada mama
“ya ampun dek mama kira kamu sudah berangkat, udah siang ini ayo cepat sarapan dulu” ucap mama lalu menyuruhku untuk sarapan bersama.
“nggak ma, udah siang banget ini nanti aku telat. Aku berangkat ya” kataku lalu meminum beberapa teguk susu yang mama siapakan di meja makan hitung-hitung menghargainya. Cepat-cepat aku melangkahkan kaki keluar.
“eh dek tunggu, ini kunci mobilnya gak di bawa?” mama berteriak menahanku
“aku bawa motor ma, kalo pake mobil pasti macet ga bisa selap-selip hehe” aku menoleh kebelakang sambil cengengesan
Dengan cepat kulajukan motor Ninja Merah 250cc milikku. Pasti kalian bertanya-tanya mana bisa membawa motor ninja menggunakan rok tentu saja tidak aku mengenakan celana olahraga seperti saat SMP ku dulu dan begitupun dengan hari ini. Jalanan bundara HI yang merupakan jalan utama menuju sekolahku macet total sama sekali tak bergerak. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit aku hanya mempunyai sisa waktu 15 menit lagi untuk sampai ke sekolah akhirnya aku memutuskan untuk melewati jalan tikus meskipun menjadi lebih jauh aku tak perduli. Yang penting aku bisa sampai tepat waktu. Ketika diperempatan jalan motorku oleng ke kiri alhasil aku jatuh tepat ke kubangan jalan.
 “hey!! Berhenti! Bisa bawa mobil ga sih!” teriakku pada pengendara mobil BMW, lalu mobil itupun berhenti.
“ heh bawa mobil tuh hati-hati dong! Lihat kanan-kiri jalan jangan asal ngebut! Baju gue kotor nih!” kataku menegur pengendara mobil itu sambil mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.
Si pengendara mobil hanya membuka setengah kaca mobilnya lalu berkata “sorry gue lagi buru-buru, nih buat ganti baju lo yang kotor” ucapnya sambil memberikan lembaran uang seratus ribu. Lalu mobil itupun melesat pergi begitu saja.
“menyebalkan sekali! Dia pikir dia siapa bisa seenaknya! Lihat saja ya kalau sampai aku tau siapa dia, habis kau!” makiku pada si pengendara mobil tadi.
Segera aku melajukan motorku menuju sekolah karena waktuku tak banyak, hanya tinggal 8 menit lagi. Dan tepat pukul 07.00 aku sampai di depan gerbang sekolah, namun saat motorku akan masuk ke dalam gerbang, dari arah kanan dengan kecepatan tinggi sebuah mobil menyenggol body motorku yang berniat akan memasuki gerbang sekolahku juga.
‘sial! Lagi..lagi..dan lagi! Bisa-bisa motor gue rusak kalo begini! Eh.. ituu..’ rajukku dalam hati, lalu ucapanku terhenti saat melihat sesuatu yang tak asing dari mobil itu.
“B- 1-2-0-W-1-K-5- T” aku mengeja plat mobil yang baru saja menyenggol body motorku.
“tidak salah lagi! Dia yang tadi nabrak di perempatan jalan! Rupanya dia sekolah disini juga, mati kau!”  kataku penuh semangat lalu turun dari motor untuk menghampiri si pengendara mobil.
“heh punya nyali berapa lo cari masalah sama gue?”
“ Lo kan yang di perempatan jalan tadi?” ucapnya sambil menunjukku dengan membuka setengah kaca mobilnya.
“baguslah kalo lo masih ingat! Ada masalah apa lo sama gue sampai-sampai nabrak gue dua kali hah?” ucapku kesal.
“idih siapa juga yang cari masalah sama lo! Kenal aja enggak!” ucapnya membuang muka.
“lo itu nyebelin ya!” aku mencengkram kerah bajunya bersiap akan melayangkan pukulan namun satpam sekolah melerai kami.
“ada apa sih kalian ini, sudah berangkat siang malah berdebat di depan gerbang! Sudah pukul 07.00 cepat masuk gerbang akan segera ditutup!” ucap sang satpam sambil memelototi kami berdua.  Setelah aku memarkirkan motor, cepat-cepat aku pergi ke kamar mandi untuk segera mengganti celanku dengan rok lalu aku masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan X-3 yang tak lain dan tak bukan adalah ruang kelasku.
“selamat pagi bu, maaf saya terlambat” ucapku memberi salam ketika memasuki kelas.
“baru hari pertama sekolah sudah terlambat! Kamu niat ke sekolah apa tidak? Berantakan sekali!” sang guru menatapku tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki
‘sial! Aku kotor sekali. Sangat berantakan!’ gumamku dalam hati dengan menirukan gaya guruku itu
“maaf bu, tadi saya kece...” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku datang seseorang yang menyanggah ucapanku dari ambang pintu.
“mah-maafh buh, maaf saya telat” ucapnya dengan deru nafas yang sangat jelas terdengar.
“loh? Lo kan.. yang tadi! Ngapain lo kesini? Ngikutin gue ya lo?!” dengan spontan aku membentaknya.
“idiih! Lo kali yang ngikutin gue!” ucapnya kemudian menirukan gayaku yang sedang menunjuknya.
“heh! Yang duluan kesini itu gue! Jadi jelas lah lo yang ngikutin gue!” kataku dengan memamerkan mata yang sengaja ku buka lebar-lebar.
“bu.. ini orang yang buat saya telat bu, bikin baju saya kotor, body motor saya lecet, bikin saya berantakan, dia yang bikin kecelakaan bu!” cerocosku berharap dapat simpati dari sang guru.
“eh apaan! Kenapa jadi gue? Lo juga salah kali, belok di perempatan tiba-tiba gitu. Dia bu yang salah bukan saya!” dia menjelaskan rentetan kejadian tadi dengan isyarat tangan yang dibuat miring ke kiri lalu ke kanan.
“SUDAH! SUDAH! BERHENTI KALIAN SEMUA!” wajah guruku memerah dan mulai nampak ada tanduk dikepalanya tanda ia mulai kesal dengan ulah kami. (kalau di film-film ceritanya bu gurunya teriak sampai-sampai meja sama kursi goyang-goyang saking cetarnya teriakan tuh guru ehehe *abaikan)
“kalian ini baru datang sudah bikin ulah! Buat gaduh saja! Ayo push up!” ucapnya lagi lalu memeberi hukuman pada kami.
‘semua ini gara-gara lo! Pembawa sial dasar’ gumamku dalam hati sambil meliriknya sebentar lalu menjalankan yang disuruh oleh guruku.
“sudah cukup push up nya, ayo cepat duduk. Pelajaran akan segera dimulai” guruku mempersilahkan kami untuk duduk lalu menunjuk dua kursi kosong  dengan satu meja yang sama.
“apa? Gue harus duduk satu meja bareng lo? Ah pasti sial terus gue” ucapku sambil mengacak-ngacak rambut jabrik kesayanganku.
“heh lo pikir gue mau duduk bareng lo? Ogah!” cerocos orang menyebalkan itu.
“hey! Kalian ini kenapa sih?! Kalian tidak mau duduk berdua? Suruh siapa kalian datang terlambat kursi yang tersisa hanya itu. sudah cepat duduk sana!” guruku nampaknya mulai kesal kembali lagi-lagi karena ulah kami.
Hmm.. mau tak mau aku harus duduk juga dengan manusia menyebalkan ini. Sepertinya aku harus sering-sering cek kedokter karena aku yakin seminggu saja aku duduk dengannya bisa-bisa tensiku tinggi. Ah menyebalkan. Saat aku tengah fokus mencerna materi dari guru yang sedang menerangkan pelajaran, disebelah kananku terlihat sangat rusuh.
“heh.. heh.. gue liat catatan lo dong, tulisan bu firda ga jelas banget tuh” ucap seseorang di sebelahku.
Tanpa berkata sepatah katapun bahkan melirikpun tidak aku menyodorkan catatan milikku.
 “heh..heh.. gue pinjem pulpen dong, pulpen gue abis nih” ucapnya lagi sambil menyikut lenganku.
Lagi, tanpa berkata sepatah katapun bahkan melirikpun tidak aku menyodorkan bolpoin milikku.
“heh..heh.. gue pinjem tip-x dong, gue lupa bawa tip-x” ucapnya lagi kini dengan menatapku sambil menopang dagunya .
Lagi dan lagi tanpa berkata sepatah katapun aku menyodorkan tip-x milikku namun kini sambil menatapnya dengan tatapan mematikan bermaksud agar dia berhenti melakukan aktivitas meminjam barang-barang milikku. Namun beberapa saat kemudian...
“heh..heh.. gue pinjem.....” belum sempat ia menyelesaikan perkatannya sudah ku potong. Kesabaranku habis.
“ASTAGA! Mau lo apa sih? Ambil tuh catatan gue, pulpen gue, tip-x gue, penghapus gue, penggaris, semua! Ambil tuh semua sama lo! Rese banget sih ganggu aja lo!” kesebaranku habis.  suaraku meninggi. Aku membentaknya sambil memukul meja, dan aku tak menyadari kalau ini berada di dalam kelas, tentu saja membuat gaduh.
“aw! Sakit!” pekikku sambil mengelus-ngelus dahi yang terasa berdenyut akibat penghapus yang bu firda layangkan tepat ke arahku.
“kalian berdua lagi! Kalian berdua lagi! Seperti kucing dan anjing saja! Siapa sih kalian?” guruku bermonolog  terlihat sangat frustasi akibat ulah kami sambil melihat daftar absensi untuk melihat nama kami berdua.
“push up dari saya tak cukup memberikan efek jera ternyata, kalau begitu cepat kalian keliling lapang 10 putaran. Ayo cepat liliyana natsir dan tontowi ahmad!” ucap guruku yang terlihat sangat menakutkan.
‘sudah yang kelima kalinya gue sial gara-gara lo! Liat saja pembalasannya nanti!’ gumamku dalam hati sambil mendelik orang yang menyebalkan itu sebelum aku keluar kelas untuk mulai melakukan perintah dari guruku.
Setelah kami selesai lari 10 keliling lapangan, kami memutuskan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran namun SIALnya lagi kami tidak diperbolehkan mengikuti 2 jam pelajaran bu firda katanya ini sebagai hukuman beruntun agar kami tak melakukkan kegaduhan lagi nantinya.
‘belum satu hari duduk dengannya saja aku sudah tertimpah beberapakali kesialan apalagi untuk besok? Lusa? Satu minggu kemudian? OH TIDAK!” rajukku dalam hati lalu mengacak-ngacak rambut jabrikku itu yang memang selalu aku lakukkan ketika aku merasa kesal.
Lalu aku pun pergi sengaja meninggalkannya, aku pergi ketaman biotik untuk menyegarkan sedikit otakku sambil menonton para kakak kelasku yang sedang berolahraga. Ya.. aku tak mau berlama-lama lagi bersama orang menyebalkan ini, setidaknya dengan bu firda tidak membiarkan kami masuk ke kelas ada untungnya juga 2 jam aku tidak harus bersama dengan orang freak itu. ditengah-tengah keasyikanku  menontoni kakak kelas yang tengah berlaga menggocek bola kesan-kemari datang seseorang yang tiba-tiba duduk disebelahku.
“hai.. muka lo mumet banget, gara-gara gue ya? sorry deh sorry” ucapnya membuka keheningan diantara kami.
Aku menoleh ke sebelahku ‘sial! Lo lagi!’ kesalku dalam hati sambil menatapnya tajam.
“sorry deh gue bikin lo sial terus ya?” ucapnya lagi.
Aku tak menjawab pertanyaanya, aku bangkit dari dudukku lalu pindah ke tempat yang lebih jauh untuk menghindar darinya.
“hei.. gue janji gak akan buat ulah lagi kok, jawab dong!” dia menghampiriku lagi seolah ingin membangunkan macan yang sedang tertidur, lalu melambai-lambaikan tangannya tepat di dedapan wajahku.
“LO ITU.. NYEBELIN BANGET SIH! MAU LO APA?!” tingkat kesabarnkku sudah sangat menipis aku melotot dengan wajah yang nampak seperti singa akan menerkam mangsanya.
“eits.. jangan galak-galak dong liat tuh kepala lo” ucapnya serius menatap kepalaku
“kenapa sama kepala gue hah? ga suka lo?!” lagi-lagi aku membentaknya urat leherku rasanya mau putus.
“bukan, kepala lo ada asapnya tuh” ucapnya sambil menaruh botol berisi minuman dingin diatas kepaku seperti sedang mengompres.
“nah sekarang asapnya sudah hilang, udah ya jangan marah-marah lagi. Maafin gue ya” ucap laki-laki menyebakan itu tersenyum lalu menyodorkan minuman yang ia pakai untuk mengompres kepalaku tadi.
“ini, ayo minum. Lo pasti haus kan? Nih buat lo” ucanya lagi ramah lalu tersenyum.
“kalaupun gue haus gue bisa beli sendiri!” aku memalingkan wajah lalu merogoh saku bajuku untuk segera pergi lalu membeli minum.
‘ya ampun, uang gue kan ada di tas’ gumamku dalam hati sambil menepuk jidat.
“kenapa? Uangnya ada di tas ya?” ucapnya, dia seperti paranormal yang dapat mengetahui pikiran orang lain.
‘gengsi kali gue udah bentak-bentak dia terus gue ambil gitu aja minuman yang dia kasih, tapi.. haus banget’ rutukku dalam hati lalu menelan ludah ketika melihat tetesan embun yang mengelilingi botol minuman menyegarkan itu.
 “Udahlah gengsinya ditinggal dulu, lo minum nih.. emm.. enak loh seger” dan lagi-lagi ucapannya tepat seperti apa yang sedang ku pikirkan.
Dengan rasa gengsi yang tak kupikirkan lagi dengan cepat aku menyambar botol minuman yang sedari tadi kuanggurkan. Sepersekian detik minuman dibotol itupun telah lenyap, habis hingga tetesan terakhir.
“ya ampun lo haus apa doyan? Cepet banget udah habis lagi haha” ucapnya tertawa melihat tingkahku.
“kenapa? Masalah buat lo? Tenang aja nanti kalau udah diboleh masuk kelas uang lo gue ganti!” ucapku masih membentaknya sebenarnya sih untuk menutup malu atas gengsi yang tadi tak kuhiraukan.
“jutek banget sih lo, oh iya kita belum kenalan. Gue tontowi panggil aja owi lo siapa?” katanya lalu mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
“lo ga denger bu firda manggil gue tadi siapa? Budek lo?” bukan menjawabnya aku malah berbalik menanyainya.
“yaelah, gue ga budek! iya gue tau lo liliyana kan? Liliyana Na-na..na.. Nasar ya?” Ucapnya menebak-nebak
“Nasar itu penyanyi dangdut! Jayus lo” ucapku yang tahu kalau dia ingin membuatku tertawa atas pelesetannya. Namun tak berhasil.
“jayus itu, itu loh jayus tambunan” ucapnya lagi.
“apaan sih lo ga lucu, basi banget lawakan lo” ucapku dingin, sambil terus menonton jalannya pertandingan futsal kakak kelasku.
“yaudah mangkanya nama lo siapa? Kan kalau gue panggil liliyana kepanjangan” ucapnya.
“butet, panggil aja gue butet” kataku tanpa menoleh ke arahnya.
“bhahaha butet? Aneh banget sumpah nama panggilan lo konyol bhahaha ga ada nyambung-nyambungnya sama nama asli lo” tawanya pecah saat tahu nama panggilanku butet.
“BRUGH”
“gue udah coba tahan sama sikap lo yang super nyebelin dari awal diperempatan jalan tadi ya! Kesabaran ada batasnya! Lo bakalan tahu kalau mau main-main sama gue!” ucapku setelah berhasil mendaratkan pukulan tepat diarah perutnya yang memebuat dia meringis kesakitan.
“aw! Pukulan lo hebat juga! Kenapa ga jadi atlet karatre aja lo, hey! Hey! Gue lagi ngomong sama lo ya heeey!” dia terus-memanggil-manggil namaku sepeninggal aku pergi.
“teeet teeet teeet” akhirnya bel pun berbunyi itu tandanya aku boleh meninggalkan sekolah. Ketika aku akan ganti rok sekolahku dengan celana olahraga aku baru ingat kalau celana olahragaku kotor sekali akibat insiden tadi pagi tidak mungkin aku pulang dengan celana seperti itu tapi jika aku memaksakan menggunakan rok sekolah tidak mungkin juga karena pasti tidak nyaman.
“akh..! bagaimana ini?” aku mengacak rambutku sendiri.
“oh iya! Aku tau!” akupun memetikan jari.
Aku menyusuri setiap lorong kelas berharap menemukan sosok yang kucari, aku berjan beberapa langkah lagi menyusuri kantin sekolah tak kutemukan juga yang sedari tadi ku cari-cari. Dan ketika aku memutuskan untuk mencarinya di taman biotik akhirnya terlihat juga.
“heh!” ucapku pada seseorang yang memunggungiku.
“heh! LO BUDEK YA?!” ucapku lagi kini berteriak tepat di kupingnya.
“kalau manggil nama orang yang sopan ga perlu teriak-teriak gue gak budek kok dan satu lagi nama gue owi bukan ‘HEH’ ngerti?” ucapnya dengan tampang dibuat semanis mungkin sambil membekam mulutku.
“apaan sih lo, lepasin” aku berontak.
“sini celana lo” tanpa basa-basi aku langsung meminta celananya.
“maksud lo apa sih? Datang teriak-teriak terus tiba-tiba minta celana gue, sakit lo?” ucap lelaki itu sambil menaikan satu alis tebalnya.
“lo yang sakit! Lo lupa? Atau amnesia? Tadi pagi lo nabrak siapa di perempatan jalan sampai itu orang jatuh ke kubangan dan celananya kotor semua. Lupa lo hah?” ucapku geram.
“ohahaha” ia pun tertawa tanpa terlihat bersalah “ jadi itu sebabnya lo dari awal jutek sama gue, emang tadi yang gue tabrak itu perempuan? Seingat gue yang gue tabrak tadi itu laki-laki deh pakai celana olahraga bukan rok sekolah begini” ia terlihat sedang berfikir
“iya yang lo tabrak itu gue! Perempuan! Dan celana gue kotor akibat tadi jatuh kekubangan gara-gara lo! Dan sekarang... lo ngerti kan harus ngapain?”
 “ma-maksud lo?”
“gue mau pulang dan gue gak mungkin pulang pakai rok soalnya gue bawa motor dua kali lipat lebih besar dari motor biasa”
“jadi.. maksud lo? Mau pakai celana gue sebagai ganti celana lo yang kotor? Kalau lo pakai celana gue, gue pakai apa?”
“Bukan urusan gue! Cepat sini celananya!”
“ta-tapi.. apa kata orang nanti kalau gue gak pakai celana?”
“yaudah lo pakai rok gue gue aja sih ribet banget! Cepat sini celananya!”
“apa kata orang nanti kalau gue pakai rok? Enggak ah enggak!”
“mau bogem atau pakai rok?” ucapku dengan memamerkan tangan yang ku kepal bersiap menerkamnya.
“apa gak ada pilihan lain? Gue beliin lo celana dulu deh di mall”
“enggak ah enggak! Kelamaan!”
“yaudah kalau lo susah buat bawa motor pakai rok lo pulang bareng gue aja deh. Motor lo biar nanti temen gue yang bawa dan anterin ke rumah lo”
“OGAH!”
“ya ampun tet pleas ngertiin gue dong, gak mungkin gue pakai rok dilingkungan sekolah kayak begini nanti kalau kepala sekolah lihat lo bakal kena juga” ucapannya sukses membuatku berfikir  dua kali kata-katanya ada benarnya juga jika kepala sekolah melihatnya tentu akan muncul masalah baru lagi. Ini baru hari pertamaku sekolah aku tak mau membuat onar lagi akhirnya dengan berat hati aku pulang bersama orang menyebalkan ini. Dan ditengah perjalanan aku baru sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahku.
“ini kan bukan arah ke rumah rumah gue, dari tadi gue udah bilang kan setelah perempatan belok kiri bukannya lurus”
“emang kita bukan mau kerumah lo kok” ucapnya enteng membuatku panik setengah mati.
“heh! Lo mau bawa gue kemana? Jangan macem-macem ya lo!” ucapku mengancamnya untuk menutupi rasa takutku.
‘Jangan-jangan dia mau menyekapku dalam sebuah gudang, atau melemparku kesungai atauuu memutalisiku menjadi beberapa potongan aaaa tidaak’
‘mungkin tadi disekolah ketika aku membentak-bentaknya dia diam saja karena sudah merencanakan ini’
‘tuhan tolong aku’ aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti dan aku terus berdoa berharap semua yang kubayangkan tidak benar.
TBC
Akankah terjadi yang dipikran oleh butet? Dan kira-kira butet mau dibawa kemana ya sama owi?
Tunggu part selanjutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar